oleh Fr. Kanisius
Prolog
Seorang frater sepuh telah bertahun-tahun menempati sebuah kamar di sudut biara tua. Apakah memang ia betah dan kerasan tinggal di sudut kamar biara tua itu?. Seorang pun tidak tahu, dan yang tahu cumalah dirinya dan Sang Maha Tahu. Ataukah memang ia harus di sudutkan dikamar Biara tua itu? Semuanya misteri dan misterius untuk ditelusuri dan diinvestigasi. Sejatinya, ia adalah sosok yang low profil dan humanis, moderat dan demokratis, bahkan tidak anti alat-alat modern. Namun keterpanggilan jiwanya dan ketergerakan hatinya, dengan santun menggunakan alat-alat modern sesuai dengan kebutuhan dan skala prioritas. Ia pun cermat, selektif dan cerdas untuk menggunakan sarana canggih hanya demi menunjang kinerjanya. Ia sangat merasa malu kalau melihat Laptop yang mutakhir itu, hanya merupakan pajangan di salah satu ruang kerja. Ia pun merasa prihatin dan pilu, kalau sarana canggih itu hanya dibuka untuk mendengarkan lagu-lagunya saja. Dan si pemiliknya, sembari bersenandung hanya mengekori lagu-lagu tersebut. Si Pemiliknya pun tidak pernah mengefektifkan alat canggih itu, sehingga menghasilkan konsep-konsep yang berguna bagi Kongregasi. Ia pun terharu dan sedih bahwa sarana yang canggih itu, hanyalah semacam “Show of Conceit” dan sekedar gaya demi memenuhi selera, keinginan bahkan untuk memuaskan nafsu memiliki dari sang pemiliknya. Dengan fenomena-fenomena yang terrekam seperti ini, tergeraklah hati Si frater sepuh; “Ahh! Kalau kondisinya begini terus…kaum hedonis sementara bergetayangan di dalam Biara tua ini”.