Senin, 13 Juni 2011

Pengalaman Perjalanan Menuju Tanah Misi

oleh Fr. Donatus
Frater Donatus dengan putra-putri Kenya
Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa saya akan bergabung dengan kongregasi ini dan dikirim menjadi misionaris. Dua tahun yang lalu ketika saya masih bertugas di Komunitas Kebraon Surabaya, saya didatangi oleh Frater Provinsial untuk menyampaikan rencana dewan tentang pengiriman misionaris ke Kenya. Beliau mengatakan melalui pertimbangan dan keputusan yang matang dewan mengutus Frater (Saya) ke tanah misi Kenya – Afrika. Saat itu juga saya dengan suara yang lantang menjawab ya saya bersedia, tanpa berpikir konsekuensi yang akan terjadi. Segala persiapan dan dukungan dari anggota komunitas membuat saya semakin mantap dengan keputusanku menuju tanah misi. Fr. Romanus dan saya akhirnya dikirim ke Jogjakarta untuk belajar bahasa Inggris selama 3 bulan dan dilanjutkan dengan kursus computer serta kursus lainya. Kurang lebih dua atau tiga bulan kami harus menunggu surat ijin kerja dari pemerintah Kenya.
Penantian yang cukup lama membuat semangat yang sebelumnya meluap-luap menjadi surut, bagaikan sungai di musim hujan dan kering di musim panas. Akhirnya pada bulan Oktober 2009 kami meninggalkan Indonesia. Dari Surabaya ke Jakarta kami (Fr Roman dan saya) diantar oleh Fr Timoteus. Bagi kami berdua menuju Jakarta merupakan kesempatan pertama, itu sebabnya mengapa Fr Timoteus mendampingi kami. Siang itu kami tiba di Jakarta dan beristirahat di sebuah hotel berbintang tiga. Kemacetan kota Jakarta membuat kami memutuskan untuk berangkat lebih awal dari hotel ke bandara. Pada pukul 19.00 setelah makan malam kami menuju bandara internasional Sukarno-Hatta, Jakarta. Perjalanan ke bandara memakan waktu dua jam. Perasaan sedih dan galau menghampiri suasana hatiku. Tak ada pembicaraan yang terjadi saat berada di dalam taxi. Semua pada hening hanya sesekali sopir taxi bertanya memecah keheningan namun setelah itu suasana hening kembali terasa. Tiba di bandara kami diantar oleh Fr Timotheus ke ruang tunggu. Untuk menghilangkan rasa sedih karena harus meninggalkan Indonesia, konfrater dan sanak keluarga, saya mencoba untuk menonton pertandingan sepak bola yang pada saat itu di tayangkan di sebuah channel TV. Tak lama berselang Fr. Timotheus memanggil kami berdua untuk bersiap chek in. Dengan beberapa koper yang ukurannya lebih besar dari badanku kami melangkah penuh percaya diri meninggalkan Fr. Timotheus yang berdiri semakin jauh seiring dengan langkah kami mengikuti antrian. Saya secara pribadi merasa sangat sedih sehingga kedua bola mataku hampir memuntahkan lahar dingin. Saya kurang tahu apa yang dirasakan Fr Romanus pada saat itu tapi saya yakin dia juga merasakan hal yang sama dan mungkin saja dia sudah meletuskan lahar dingin yang menggenang begitu lama. Berbagai macam administrasi kami lalui namun sedikit mengalami kebingungan ketika akan mengisi lembaran yang harus ditulis dalam bahasa Inggris. Rupanya tiga bulan mengikuti pelajaran bahasa Inggris belum cukup bagi kami berdua. Tapi dengan keyakinan teguh kami membuang perasaan malu dengan bertanya. Akhirnya kami bisa menyelesaikannya. Tantangan belum berakhir disitu. Ketika berada di kantor imigrasi kami ditanyai berbagai macam oleh petugas. Kami sempat dikeluarkan dari antrian dan diperiksa secara khusus. Berbagai macam dokumen perjalanan telah kami tunjukan, semuanya masih menimbulkan keraguan dibenak petugas. Mungkin mereka berpikir dua orang ini adalah teroris, sebab saat itu saya lupa mencukur jenggot saya yang panjangnya 1,5 cm. Saya sempat berpikir kalau mereka masih menahan kami, saya akan mengeluarkan dokumen yang terakhir yang berwarna merah di dalam dompetku. Namun semuanya menjadi cair ketika kepala petugas imigrasi datang dan melihat dokumen kami. Dengan nadah sedikit keras kepada sesame petugas dia berkata “Biarkan mereka masuk sebab mereka ini misionaris”. Mendengar itu ucapan rasa terima kasih sempat dikumandangkan dalam hatiku kepada Tuhan dan kepada bapak kepala imigrasi itu. Dia sempat bertanya beberapa pertanyaan kepada kami tentang tujuan dan maksud ke Kenya. Rasa aman dan senang mengiringi peristirahatan kami di sebuah cafe sambil ditemani dua gelas juice mangga dan sebungkus rokok. Saya juga sempat menelepon Fr Timotheus yang masih dengan setia menunggu di luar sana. Saya menyampaikan bahwa kami dalam posisi aman terkendali dan sedikit menjelaskan keruweten yang terjadi saat berada di kantor imigrasi. Mendengar itu beliau merasa senang karena kami tinggal menunggu penerbangan. Kalimat terakhir yang diucapkannya adalah “hati-hati dan selamat berjuang”. Setelah bersenang-senang sekitar 30 menit didalam cafĂ© kami sedikit terkejut dengan harga 2 gelas juice yang sudah kami minum. Dengan nada guyon saya mengatakan kepada Fr Roman “ Belum sampai di Nairobi kita akan kehabisan uang”. Rupanya kalimat ini mampu menghilangkan ketegangan yang kelihatan masih nampak di wajah kami. Kami berdua tertawa sambil melangkah menuju antrian untuk memasuki sebuah pesawat yang menurut saya sangat besar dengan memiliki fasilitas yang memadai. Sebelumya saya tak pernah berpikir untuk berada di dalam pesawat semacam itu tapi karena kesempatan dan kepercayaan dari Kongregasi kepadaku maka saya pun merasakan bagaimana berada di dalam burung besi tipe boeing. Saat berada di dalam pesawat bahasa Indonesia masih terdengar. Beberapa pramugari yang cantik dan anggun dari Indonesia juga nampak dalam pesawat yang membawa kami menuju Dubai.
Tepat pukul 00.40 roda pesawat meninggalkan aspal bandara Soekarno Hatta. Suasana dalam pesawat masih sangat ramai. Fr Roman dan saya duduk berdekatan dan disebelah kanan saya ada seorang Indonesia yang akan menuju Perancis. Beberapa percakapan kecilpun terjadi antara kami berdua. Rupanya dia sangat mengenal apa itu misionaris dan pekerjaannya. Dia cukup banyak mengetahui tentang Kristen walaupun dia seorang Muslim. Percakapan ini membuat saya semakin dikuatkan untuk pergi membagi apa yang sudah Tuhan berikan padaku. Keheningan semakin terasa semua orang memasuki masa sepi. Begitu pula Fr. Roman disampingku yang sudah meditasi vertical alias tidur pulas. Saya pun sesekali memejamkan mata namun keinginan untuk tidur tak tersampaikan. Niat untuk ke toilet sedikit membuat diriku relax. Selama 5 menit saya berusaha menemukan toilet yang memang suluit ditemukan. Setelah berkeliling akhirnya saya menemukan tempat yang saya maksudkan. Selesai melakukan bisnis pribadi, saya sedikit dibuat panic dengan keadaan toilet. Beberapa menit saya habiskan di dalam toilet yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Saya sulit menemukan tombol untuk membersihkan sesuatu. Keringat dingin dan kepanikan mulai terasa. Sesekali saya berusaha membuka pintu toilet untuk meminta bantuan tapi rasa malu membuat saya berusaha menyelesaikan masalahku. “Ohhh ternyata ini dia” kataku sambil menekan tombol kecil di dinding toilet yang memang bagi pendatang baru pasti akan kesulitan menemukan itu. Sejak itu sampai tiba di Dubai saya tidak lagi menuju toilet yang telah mengajar saya untuk lebih teliti.
Pagi itu kami tiba di bandara internasional Dubai. Masing-masing orang berebutan untuk masuk kedalam bus yang menjemput kami dari pesawat. Bahasa Indonesia yang beberapa jam lalu masih terdengar sekarang tinggal kenangan yang terdengar hanya bahasa Inggris dan Arab. Syukurlah saya masih mendengar bahasa Indonesia dari teman seperjalananku. Sebuah pertanyaan “Setelah ini kemana? oleh Fr Roman membuat saya juga ragu sebab saya juga tidak tahu tentang tempat ini. Kalau bandara Surabaya mungkin saya mengatakan tenang jangan khawatir. Tapi ini di Dubai yang bagi saya sangat asing dimata. Melalui beberapa pemeriksaan serba extra ketat kami mulai mencari nomor pintu untuk melanjutkan penerbangan ke Nairobi. Sekali lagi terdengar pertanyaan dari karibku “Kita kemana?” Rupanya kecemasan mulai perlahan-lahan mengrogoti pikiran kami. Untuk tidak terlarut dalam perasaan itu saya pun menjawab “Tenang kita ikut saja orang-orang yang bersama kita didalam pesawat dari Indonesia”. Setibanya di lantai tiga kami menemukan begitu banyak orang dari berbagai negara. Kami mencari pintu nomor 270. Hampir saja untuk memecahkan kecemasan, saya bermaksud untuk bertanya. Tapi karena bahasa Inggris yang harus digunakan akhirnya saya putuskan untuk diam dan terus berjalan mencari gate 270. Dari kejauhan nampak tertulis 270, Fr Roman yang tadinya hanya diam karena cemas atau hal lain akhirnya bersuara “Disana nomor 270”. Bergegaslah kami menuju tempat itu. memang betul itu tertulis pintu 270 sesuai nomor penerbangan kami. Tapi yang tertulis “Cape Town”. Tak pernah terdengar kata ini sebelumnya. Dengan keyakinan yang teguh saya bertanya pada fr. Roman “Kamu tahu apa artinya cape town? jawabannya membuat saya tersenyum “kita berdua buta bahasa Inggris, mengapa tanya saya?” Saya makin cemas, bertanya dalam hati “Apa itu cape town”. Kucoba menelepon Fr Maxi tapi, karena kehabisan kredit saya tidak mendapat jawaban . Suasana di tempat itu sangat sepi hanya beberapa orang termasuk kami berdua. Supaya tidak kelihatan bahwa kami dalam keadaan bingung/panic saya mempersilakan Fr Roman untuk duduk di sebuah kursi yang disediakan. Disampingku ada seorang pria gemuk berkulit putih. Sesekali mataku menatap dia seakan-akan mau bertanya, tapi lagi-lagi karena harus berbahasa Inggris maka niat itu kuurung. Tak bisa menahan rasa cemas yang kian menghantui diriku akhirnya saya berani bertanya. “Hi sir…. What is your name? Dia menjawab “Michael!” lalu dia bertanya”and you” jawabku Donatus setelah beberapa saat berpikir. Kelihatan orang ini sangat ramah pikirku lalu saya bertanya lagi”where are you going?” dia menjawab “I am going to Nairobi”. Ohhhhhhhhhh perasaan lega dan senang seketika. Perkenalan lebih lanjut pun terjadi dengan bahasa Inggris yang terbatah-batah saya bercakap dengan malaikat penyembuh kecemasan itu. Dia bertanya padaku “Do you know to play chess? Kata chess sangat asing bagiku sempat kutanya fr. Roman tapi jawabannya sama “Saya juga tidak tahu” Kucoba membolak balik otakku mungkin kata itu ada di dalamnya. Oh iya chess artinya dada. Tapi apa yang mau dimainkan didada pikirku. Karena cukup lama menanti jawabanku. Dia mengeluarkan selembar kertas tebal dengan sebuah box. Setelah melihat gambar hitam putih yang ada dikertas itu sayapun menjawab “Oh yes I know to play it”. Ternyata chess itu catur. Tak terasa 2 babak telah kami selesaikan dan semuanya dimenangkan oleh penulis. Kami pun menjadi teman yang akrab sampai membagi minuman dan makanan kecil sambil menunggu penerbangan ke Nairobi. Dengan tidak merasa malu sayapun bertanya kepada dia tentang apa arti “Cape Town” itu. Dia menjelaskan “Cape Town” itu sebuah kota di Africa Selatan. Dengan tersipu malu saya berbisik kepada fr. Roman “Itu sebuah kota di Africa selatan sembari memukul dahi yang merupakan kebiasaanku. 5 jam menanti di Dubai tak terasa lamanya. Tiba saatnya kami melanjutkan penerbangan ke Nairobi. Semua kursi yang tadinya kosong hampir semua terpenuhi. Kebanyakan dari mereka berkulit gelap, hal ini semakin meyakinkan kami bahwa kami tidak salah memasuki pintu 270. Berbagai macam administrasi kami lalui dan kali ini tidak banyak menimbulkan kesulitan. Siang itu kami meninggalkan Dubai. Tak ada lagi bahasa Indonesia yang terdengar semuanya menggunakan bahasa Inggris.
Di sampingku ada seorang gadis yang mungkin berasal dari Kenya. Segala sesuatu yang dibuat olehnya menjadi penolong untuk ditiru. Ketika dia membuka tv yang ada didepannya saya pun dengan cermat memperhatikannya dengan sesekali mengatur posisi duduku. Setelah setengah jam berselang saya pun menunjukan keahlianku membuka tv yang juga ada didepanku. Bukan hanya itu ketika dia menekan sebuah tombol tepat diatas kepalanya saat itu pula seorang pramugari cantik nan seksi menghampirinya. Saya juga tidak mau ketinggalan beberapa saat kemuadian saya meniru apa yang dibuatnya. Betapa kagetnya saya ketika seorang pramugari datang bertanya dalam bahasa Inggris. Ternyata itu alat untuk memanggil pramugari untuk meminta bantuan. Memang maksudku cuma iseng tapi karena semuanya sudah terlajur saya pun meminta bantuannya untuk mematikan lampu. Entah sesuai dengan grammar yang benar atau tidak saya mengatakan ”please close light” Ehh… ternyata dia mengerti dan mematikan lampu itu. Setelah menempuh 5 jam penerbangan dari Dubai ke Nairobi, kami mendarat mulus di bandara international Jommo Kenyata (Nama presiden pertama Kenya). Kembali kecemasan menghantui kami berdua. Setelah keluar dari pesawat apa yang harus kami lakukan, kemana kami harus melapor diri, dan bagaimana mengisi formulir yang akan diberikan. Berulang kali saya menarik nafas yang dalam sembari sesekali menyebut nama Yesus untuk membantu kami. Memang Tuhan tidak pernah meninggalkan umatnya ketika dalam kesulitan dan itu saya yakin ketika kami keluar dari pintu pesawat menyusuri sebuah lorong yang jaraknya 3 meter menuju lantai dua, seseorang yang tidak asing bagi kami berdiri tepat diujung pintu. Dialah Fr. Vincent yang datang menjemput kami. Ia bukan hanya masuk di ruang tunggu tapi masuk sampai kedalam ruangan yang tidak sembarang orang bisa masuk. Betapa bahagianya kami berdua dan saya sempat berkata kepada Fr Roman ”Selamatlah kita”.

4 komentar:

  1. Website SDK St. Xaverius Surabaya
    http://www.sdkstxaverius-sby.sch.id

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih pak Indra. Saya add webnya ya...

      Hapus
  2. Seru dan lucu pengalaman frater..

    BalasHapus
  3. Seru dan lucu pengalaman frater..

    BalasHapus